Akademisi: Hoaks Ancam Hancurnya Persatuan Bangsa

Akademisi: Hoaks Ancam Hancurnya Persatuan Bangsa

JAKARTA – Pakar informasi dan akedemisi Agung Harsoyo mengatakan maraknya hoaks atau berita bohong di kalangan masyarakat berpotensi akan memecah belah bangsa.

Agung yang juga seorang dosen di STEI Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan jika sudah terjadi akibat dari berita bohong maka akan ada kerusakan infrastruktur bahkan bisa menimbulkan korban jiwa.

“Waspada, hoaks itu berpotensi memecah belah bangsa, mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan parahnya lagi berpotensi menimbulkan korban jiwa,” katanya kepada wartawan.

Untuk itu, Agung meminta masyarakat bijak dalam menerima informasi yang belum jelas kebenarannya terlebih lagi masyarakat harus melakukan pengecekan ulang sumber dari informasi tersebut. dengan hal itu akan terhindar dari bahaya berita bohong.

“Cara yang harus dilakukan untuk mengetahui informasi dan berita itu hoaks atau tidak, ada metodologi khusus. Baik itu mulai menilai seseorang dan menyaring informasi yang diterima,” terangnya.

“Saat ini, masyarakat kita sudah mulai adaptif terhadap media sosial dan kecanggihan teknologi, khususnya generasi muda yang sudah memiliki mekanismenya tersendiri,” katanya.

Pada kekinian ini, generasi z cenderung lebih cuek dan tentunya memiliki cara tersendiri untuk mendidik. Pasalnya, anak zaman sekarang dinilai sangat cepat dan saling mengkompensasi terhadap informasi yang diterima.

Sementara itu, terkait payung hukum untuk mencegah hoaks, Agung Harsoyo menyampaikan bahwa di Indonesia sudah memiliki UU ITE beserta turunannya.

“Sesungguhnya, dari segi aturan sudah cukup baik. Bahkan, aturan di kehidupan nyata dan digital (media sosial) sudah mirip, hingga ancaman hukumannya juga sama. Kalau di kehidupan nyata tidak boleh menghina, maka di digital juga diatur untuk tidak menghina, lengkap dengan hukumannya,” ucapnya. .

Pada prinsipnya, Agung Harsoyo menambahkan bahwa manusia itu secara alamiah memiliki insting untuk menyaring informasi dan berita serta melakukan verifikasi.

Jika menerima informasi dan berita, disarankannya untuk tidak langsung meneruskan atau membagikan ke jejaring sosial lainnya , melainkan disaring terlebih dahulu, tujuannya agar tidak memperburuk situasi.

“Saat ini sudah jauh lebih enak, kita dihadapkan pada banyak media sebagi pembanding atas informasi yang kita terima,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *