Disebut Sebarkan Informasi Merugikan Negara, Jurnalis Vietnam Ditangkap Aparat

Disebut sebarkan informasi merugikan negara, jurnalis vietnam ditangkap aparat (net)
Disebut sebarkan informasi merugikan negara, jurnalis vietnam ditangkap aparat (net)

HANOI – Salah satu Jurnalis terkenal di Vietnam ditangkap aparat setempat pada hari Selasa (7/10/2020) setelah dirinya menghadiri dialog mengenai hak asasi manusia tahunan AS_Vietnam ke-24 yang membahas mengenai hak asasi manusia serta kebebasan berekspresi.

Para pengamat menyebut penangkapan jurnalis ini adalah salah satu bagian dari tindakan keras terhadap aktivis jelang kongres nasional lima tahunan Vietnam yang akan dilaksanakan bulan Januari mendatang.

Bacaan Lainnya

Otoritas Vietnam mengungkapkan mereka menangkan jurnalis bernama Trang tersebut karena diduga membuat, menyimpan, mendistribusikan atau menyebarkan informasi, dokumen dan barang yang bertujuan untuk menentang pemerintah setempat.

Trang diketahui merupakan seorang penulis banyak buku di negaranya, sebagian bukunya memuat hak-hak perempuan, masalah LGBT dan maslaah lingkungan yang terjadi. pada tahun 2019 lalu Reporters Without Borders mmeberikannya apresiasi berupa Kebebasan Pers atas pengaruhnya dikalangan masyarakat.

“Meskipun bertahun-tahun menderita pelecehan sistemik oleh pemerintah, termasuk serangan fisik yang parah, dia tetap setia pada prinsip-prinsip advokasi damai untuk hak asasi manusia dan demokrasi, pendekatannya yang bijaksana untuk reformasi dan tuntutan untuk partisipasi nyata masyarakat dalam pemerintahan mereka, adalah pesan yang harus didengarkan dan dihormati oleh pemerintah Vietnam, bukan ditindas.” ucap Phil Robertson dari Human Rights Watch.

Pihak Amnesty International juga mengatakan bahwa penangkapan ini dinilai keterlaluan dan kurang pantas dilakukan.

“Ini adalah penangkapan yang keterlaluan, Pham Doan Trang adalah tokoh perjuangan hak asasi manusia di Vietnam, dia telah menginspirasi banyak aktivis muda untuk berbicara demi Vietnam yang lebih adil, inklusif, dan bebas.” ujar Ming Yu Hah, salah satu pihak Amnesty Internasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.