Diluar Dugaan, Ilmuan Ungkap Hasil Penelitian Infeksi Varian Omicron

Ilmuan Ungkap Hasil Penelitian Infeksi Varian Omicron

JAKARTA – Para ilmuan Afrika Selatan dan Skotlandia melakukan penelitian mengenai analisis infeksi varian Omicron. Berdasarkan penelitian tersebut infeksi varian Omicron memiliki kemungkinan lebih rendah untuk berakhir di rumah sakit daripada mereka yang terinfeksi Delta.

“Di Afsel, ini adalah sebuah epidemi. Omicron berperilaku dengan cara yang tidak terlalu parah,” ungkap Profesor Cheryl Cohen dari NICD, Kamis (23/12/2021).

Bacaan Lainnya

Hal serupa yang dilakukan peneliti asal Skotlandia, melalui Studi yang dilakukan University of Edinburgh memasukan data 23.840 kasus Omicron dan 126.511 kasus Delta yang dihimpun pada 1 November hingga 19 Desember.

Studi ini menyimpulkan, pasien yang terinfeksi Omicron dan telah mendapat vaksinasi penuh memiliki kemungkinan 80 persen lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan infeksi Delta.

“Meskipun jumlahnya kecil, penelitian ini adalah kabar baik. Ada pengurangan dua pertiga rawat inap pada usia muda yang divaksinasi penuh dibandingkan saat terinfeksi Delta, menunjukkan Omicron lebih ringan bagi banyak orang dan vaksin penuh manjur,” terang James Naismith, Direktur Rosalind Franklin Institute dan profesor struktural biologi di Universitas Oxford, dikutip dari CNN Internasional.

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum berani menyimpulkan seluruh hasil penelitian Omicron tersebut. Pimpinan teknisi WHO untuk COVID-19, Maria van Kerkhove mengatakan, masih perlu ada penelitian lebih lanjut untuk menarik kesimpulan.

“Kami belum melihat varian ini beredar cukup lama di populasi di seluruh dunia, terutama di populasi yang rentan. Kami telah meminta tiap negara untuk berhati-hati dan benar-benar berpikir matang, terutama musim libur akan datang,” tutupnya.

Seperti yang diketahui, saat ini varian Omicron telah merambah ke lebih dari 100 negara dunia. Indonesia merupakan salah satu negara tersebut dengan 8 kasus varian Omicron per Kamis (23/12/2021). Saat ini, sudah ada kasus kematian terdeteksi di Inggris, Amerika Serikat dan Israel.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *